Tiga Alasan Mengapa Indonesia Dijuluki Pusat Sumberdaya Laut Dunia
Alasan mengapa Indonesia dijuluki sebagai pusat sumberdaya laut dunia karena wilayah perairannya yang masuk dalam teritori Coral Triangle. Coral Triangle atau Gugus Segitiga Terumbu Karang adalah kawasan perairan dengan sumberdaya laut yang sangat beragam. Dikatakan segitiga karena bentuknya yang memang menyerupai segitiga.
![]() |
| Nah tuh dibantu sama Jong In sama Se Hun, katanya, ada Yeppi, Chorongie, Miyeonie. Tapi, tolong itu nama-namanya udah kek nama alien 😭 |
![]() |
coral triangle’s map by wwf — Semoga sedikit tercerahkan ya. Saya pun masih belum pernah berkunjung 😭 jadi hanya bisa mendeskripsikan sebagian kecil melalui tulisan ini |
Saking terkenalnya karena kekayaan biodiversitasnya, kawasan ini sering juga dijuluki sebagai Amazonnya lautan. Total luasnya mencapai lebih kurang 6 juta km2 di sebelah barat samudera pasifik, yang secara geografis juga merupakan wilayah dari beberapa negara, yaitu, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon (EcoNusa 2022) (Rafferty n.d.).
So, what’s so special about this area? This will be the first thing I’m going to talk
Apa yang menyebabkan kawasan ini istimewa sehingga menjadi rumah bagi banyak sumberdaya laut?
1. Sejarah geologi terbentuknya
Singkatnya, pada masa akhir dari ice age, lapisan paling bawah laut di perairan ini mengisolasi banyak spesies –yang ketika permukaan air laut mulai naik (akibat dari pencairan es), spesies-spesies yang terisolasi tersebut akhirnya saling bertemu lagi. Ini memicu munculnya gen-gen baru, atau bisa dibilang spesies ‘baru’ karena mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang juga baru terbentuk (Conservation n.d.) (Timmers 2010).
2. Because the meaning of itself(?)
Oke jadi maksudnya adalah the Coral Triangle, atau jika diartikan ke Bahasa Indonesia, maka berarti gugus segitiga terumbu karang. Kawasan ini memiliki tingkat keanekaragaman terumbu karang yang sangat besar. Coral Triangle merupakan rumah untuk lebih dari 600 spesies terumbu karang, jumlah yang diperkirakan dua kali lipat dari jumlah spesies karang yang ditemukan di kawasan Caribbean (Karibia) atau sekitar 75% dari total terumbu karang dunia (Colognoli n.d.).
Kalau dibandingkan dengan dua ekosistem lainnya (mangrove dan lamun), terumbu karang tuh menurutku memang kebih kompleks sih. Biota laut yang hidup di ekosistemnya lebih beragam. Saking beragamnya, bayangin kalau masing-masing spesies ini terus berkembang biak, dengan kemungkinan terjadi persilangan gen dengan spesies lain maka tingkat varietasnya otomatis bakal naik juga, iya gak sih? (Timmers 2010).
Ekosistem karang disana setidaknya support kehidupan lebih dari 3.000 spesies ikan terumbu karang, atau lebih kurang 40% dari total ikan karang global. Selain jumlahnya yang fantastis mereka juga memainkan peran penting lainnya, yaitu menjaga kestabilan ekosistem dengan menjadi sumber makanan bagi predator-predator laut (reality’s hurt) (Coral Reef Alliance 2023).
3. Arus dan Gelombang laut
Biota laut yang beragam dan kompleks tadi ternyata dipengaruhi oleh aktivitas arus laut yang juga kompleks banget.
Simpelnya nih ya, coba obok-obok air bak di kamar mandi rumah kamu. Pergerakan partikel-partikel di dalam airnya ya dari situ-situ aja; partikel yang di bawah naik ke atas, yang atas turun ke bawah karena ruang gerak yang dibatasi tembok seukuran bak air. Nah bayangin air yang sama tapi dengan volume dan barrier segede coral triangle. Partikel yang dibawa arus dan gelombang tuh hampir datang dari segala sisi, karena barrier-nya tuh gak ‘senyata’ tembok bak air di kamar mandi tadi. Maksudnya tuh air laut ketemu air laut. Jadi memungkinkan terjadinya pencampuran entah itu larva spesies baru atau makanan dari berbagai wilayah perairan. Jadi nyampur aja dulu ceunah semuanya (Stoyle 2024).
Barulah ketika partikel-partikel tadi sudah benar-benar berada dalam lingkup coral triangle, yang akan jadi barrier sesungguhnya adalah apakah lingkungan baru ini sesuai dengan karakter habitat mereka sebelumnya. Singkatnya, apakah mereka bisa adaptasi dan survive dengan lingkungan barunya. Nah, kalau kebanyakan dari mereka survive dan kebetulannya lagi mereka adalah spesies baru, makin ramailah penduduk laut di coral triangle. Yeppie dkk jadi punya banyak teman baru, yeay.
Dari tiga alasan yang kupaparkan, menurutku alasan utama yang paling berdampak adalah poin nomor satu dan tiga. Kalau faktor yang kedua itu lebih ke dampak dari dua faktor lainnya. Semoga cukup menjelaskan ya. Kalau dirasa kurang, sangat dianjurkan untuk melakukan riset mandiri. Sana baca, jangan malas 🫵
Oke, di perairan sana banyak makhluk-makhluk laut, so what about that? Nah, baru masuk pembahasan utama nih. Kopi mana kopi?!
Tentu sangat penting ya yeorobun. Pentingnya kawasan the so-called coral triangle bisa dilihat dari beberapa aspek berikut ini:
1. Ekologi
Spesies-spesies baru yang survive tadi, yang telah menambah kepadatan penduduk coral triangle selanjutnya akan saling bahu-membahu membentuk ekosistem yang jauuuuh lebih kompleks lagi. Ekosistem kompleks inilah yang akan menyediakan apa yang disebut ecosystem services atau jasa ekosistem (I knew it sounds strange tapi saya belum nemu frasa yang pas) berupa habitat alami yang menunjang kehidupan berbagai jenis biota laut (Djakiman and Haan 2024). Prinsipnya kurang lebih sama dengan demokrasi kali ya; dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Kalau konteksnya coral triangle, dari biota laut, oleh iota laut, untuk biota laut.
Jasa ekosistem yang kedua berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim. Peran ini dilakukan oleh ketiga ekosistem utama pesisr dan laut, yaitu mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Prinsip kerja mereka sama persis dengan tumbuhan yang kita jumpai di daratan namun yang membedakan adalah media pertukaran zatnya saja. Kalau tumbuhan di darat, karbon dioksida langsung diserap oleh daun, nah kalau ketiga ekosistem pesisir tadi akan menyerap karbon dioksida yang terlarut di air (Analuddin, et al. 2024). Nah dari sini dapat terlihat dengan jelas bagaimana dampak yang timbul kalau ketiga penyerap karbon tadi rusak; konsentrasi karbon diokisda meningkat dan menyebabkan pH air laut menjadi lebih asam. Kondisi ini gak ideal banget untuk banyak biota laut dan bisa ditebak kalau kondisinya sudah melewati ambang batas toleransi adaptasi mereka; they are dying.
Fun fact-nya nih, dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Pak Alongi dan kawan-kawan (2015), mereka memperkirakan bahwa mangrove dan padang lamun Indonesia berkontribusi terhadap 17% penyerapan karbon global dengan total estimasi cadangan karbon (kombinasi keduanya) mencapai 3,4 petagram karbon. Dari sini bisa kebayang lag ikan, kalau mangrove, lamun, dan terumbu karangnya rusak, gak bisa nyerap CO2 lagi, CO2 ini akan muter-muter aja terus di dalam air. Ada kemungkinan juga terlepas ke udara bebas which can turn into another pressure untuk tumbuhan di darat atau gak gitu balik lagi ke lapisan atmosfer (lebih tepatnya terperangkap) dan bisa meningkatkan temperatur bumi secara umum.
2. Eknomi
Beranjak ke sisi ekonomi nih, fyi, salah satu peran terumbu karang adalah melindungi wilayah pesisir (penduduk lokal dan infrastruktur) dari petir dan erosi laut. Kalau gak ada peran perlindungan dari mereka, kerugian yang bisa dialami penduduk pesisir setempat bisa dua kali lipat lebih besar lho (Reef World 2021). Studi yang dilakukan oleh Bapak Beck dkk di tahun 2018, mereka memprediksi kalau total nilai terumbu karang yang melindungi Indonesia dari banjir setidaknya bernilai $637 juta per tahun. Sedangkan kalau menilik dari sisi seberapa bergantungnya manusia kepada eksosistem kompleks di coral triangle, maka setidaknya terdapat 120 juta orang (mencakup keseluruhan enam negara di wilayah coral triangle) yang menggantungkan hidup pada ekosistem terumbu karang (WWF n.d.). Bahkan di zaman pertiktokan dan chat GPT ini, kebanyakan penduduk lokal –terutama di wilayah pesisir, masih bergantung banget pada sistem perikanan tradisional sebagai sumber penghidupan sehari-hari mereka (Limmon, et al. 2020).
3. Pariwisata
Oke, kalau dari sudut pandang pariwisata, sepertinya sudah jelas sih ya. Siapa woi yang tidak kenal dengan perairan terkenal Indonesia, seperti Bunaken, Wakatobi dan Raja Ampat, hayo siapa-siapa, hah?! (heh kok nyolot). Keindahan ekosistem laut dan pesisirnya merupakan spot terbaik untuk snorkeling dan diving (re: healing), mengundang turis (lokal maupun international) datang berkunjung –yang dimana secara langsung akan berkontribusi kepada sektor ekonomi Indonesia (Coral Reef Alliance 2023). Menyala Indonesiakuhh.
4. Sosial Budaya
Menurutku, ini dengan jelas tergambarkan pada lirik lagu yang saya hanya hafal lirik awalnya saja (peace). Yep, that’s it; nenek moyangku seorang pelaut, gemar … (silakan dilanjut kalau kalian hafal ya :D). Lagu yang tidak hanya memberi penjelasan kalau nenek moyang kita punya pribadi yang tangguh dan pantang menyerah khas seorang pelaut, tapi sangat dengan gamblang menggambarkan kalau itu bukan hanya sebagai profesi tapi kek sudah menjadi salah satu nilai budaya.
Biasanya, masyarakat setempat punya semacam praktik-praktik yang khas terhadap wilayah pesisir tempat mereka bermukim. Misalnya nih teman-teman kita di wilayah Papua, mereka punya yang namanya Sasi Laut (CTC n.d.). Saya pertama kali kenal istilah ini kalau gak salah di salah satu matkul konservasi gitu, duh dah lupa dah. Yang jelas, inti kegiatannya itu –secara berkala, mereka akan menutup area perairan tertentu untuk kegiatan perikanan yang sifatnya mengekstraksi atau ‘mengambil’. Tujuannya, menurutku mulia banget sih :’) , yaitu supaya ekosistem di perairan tersebut punya waktu ‘memulihkan diri’ setelah sumberdayanya diambil oleh manusia. Bravo!
Okay, that’s it. Anyway, let’s get back to the early part.
Kembali ke bagian awal –mengenai letak coral triangle dilihat dari peta, yang memperlihatkan bahwa seluruh wilayah Indonesia termasuk ke dalam perairan ini. Apakah lantas semua wilayah perairan Indonesia dikategorikan sebagai coral triangle?
Jawabannya, (ternyata) tidak. Wilayah perairan yang bisa dikategorikan masuk dalam teritori coral triangle harus memiliki lebih dari 500 spesies karang dan ikan karang yang beragam (untuk spesies ikan karang sayangnya saya belum nemu jumlah pastinya) (Coral Triangle Initiative 2024) (World Wide Fund n.d.).
Kalau diurut berdasarkan tingkat keanekeragaman yang paling tinggi, maka yang pertama adalah perairan bagian timur Indonesia, meliputi perairan sekitar Sulawesi, Maluku, Halmahera dan Papua Barat. Terkhusus Raja Ampat yang terletak di Papua, perairan ini dikenal dengan sebutan pusat biodiversitas perairan karena variasi spesies yang sangat tinggi dan beragam (Marine Conservation Insitute n.d.).
![]() |
https://papua-diving.com/diving-raja-ampat/ |
![]() |
| https://www.indonesia.travel/ph/en/trip-ideas/10-amazing-places-you-need-visit-in-wakatobi.html |
![]() |
Wilayah lainnya adalah Kepulauan Nusa Tenggara (termasuk Flores dan Pulau Komodo), Laut Banda, dan Laut Arafuru. Yang kedua adalah wilayah Indonesia Tengah, which most of them terletak di Sulwesi Utara (Taman Nasional Bunaken) dan Sulawesi Tenggara (Taman Nasional Wakatobi).
Sedangkan wilayah barat Indonesia, –walaupun terdapat spesies karang di Laut Jawa dan Bali, namun karena sebagian besar perairan disana (wilayah barat secara umum) tidak termasuk dalam coral triangle. Selain karena spesies yang dianggap tidak mencukupi syarat eksklusif tadi, secara lokasi pun, mereka –dan Samudera Hindia memang tidak berada di kawasan corl triangle. Terakhir perairan sekitar Pulau Sumatera bagian utara dan Laut Andaman yang juga berada diluar boundary coral triangle.
Woilah gak sadar udah nyampe lima halaman aje saya nulis. Next part (maybe) I will write about; kegiatan yang ada di coral triangle dan yang agak sedikit berat; tantangan yang masih menghambat negara kita dalam usaha-usaha konservasi di kawasan ini. Cheers~
Referensi
EcoNusa. 2022. econusa.id. April 8. Accessed December 19, 2024. https://econusa.id/id/ecodefender/fakta-menarik-coral-triangle/.
Rafferty, John P. n.d. Britannica. Accessed December 19, 2024. https://www.britannica.com/place/Coral-Triangle.
Conservation, Blue Corner. n.d. Blue Corner Conservation. Accessed December 19, 2024. https://bluecornerconservation.org/the-coral-triangle.
Timmers, Molly. 2010. Ocean Explorer. Accessed December 19, 2024. https://oceanexplorer.noaa.gov/okeanos/explorations/10index/background/biodiversity/biodiversity.html.
Colognoli, Martin. n.d. martincolognoli.com. Accessed December 20, 2024. https://www.martincolognoli.com/en/post/coral-reefs-coral-triangle-biodiversity.
Stoyle, George. 2024. oceanographicmagazine.com/. Accessed December 20, 2024. https://oceanographicmagazine.com/features/exploring-the-coral-triangle-raja-ampat/.
Djakiman, Cilun, and Arjan de Haan. 2024. idrc-crdi.ca. August 27. Accessed December 20, 2024. https://idrc-crdi.ca/en/perspectives/how-indonesian-researchers-are-reversing-decline-coral-reefs?
WWF. n.d. worldwildlife.org. Accessed December 20, 2024. https://www.worldwildlife.org/places/southwest-pacific-ocean-and-indonesia?
Limmon, Gino , Erwan Delrieu-Trottin, Jesaya Patikawa, Frederik Rijoly, Hadi Dahruddin, Frédéric Busson, Dirk Steinke, and Nicolas Hubert . 2020. “Assessing species diversity of Coral Triangle artisanal fisheries: A DNA barcode reference library for the shore fishes retailed at Ambon harbor (Indonesia).” Ecology and Evolution 3356–3366.
Coral Reef Alliance. 2023. coral.org. Accessed December 20, 2024. https://coral.org/en/where-we-work/coral-triangle/.
Reef World. 2021. reef-world.org. June 21. Accessed December 21, 2024. https://reef-world.org/blog/8-amazing-coral-triangle-facts-and-why-we-should-protect-it?
Beck, Michael W, Iñigo J Losada, Pelayo Menéndez, Borja G Reguero, Pedro Díaz-Simal, and Felipe Fernández. 2018. “The global flood protection savings provided by coral reefs.” Nature Communications.
Analuddin, Kangkuso, Muhammad Helmi, Rudhi Pribadi , Luky Adrianto, L. M. Golok Jaya, Wa Iba, Novi Susetyo Adi, Andi Septiana, Kazuo Nadaoka, and Takashi Nakamura. 2024. “Mangrove Vulnerability and Blue Carbon Storage in the Coral Triangle Areas, Southeast Sulawesi, Indonesia.” Frontiers in Ecology and Evolution.
Alongi, Daniel M., Daniel Murdiyarso, James W. Fourqurean, and John Boone Kauffman. 2015. “Indonesia’s blue carbon: a globally significant and vulnerable sink for seagrass and mangrove carbon.” Wetlands Ecology and Management.
CTC. n.d. coraltrianglecenter.org. Accessed December 24, 2024. https://www.coraltrianglecenter.org/our-programs/?
Coral Triangle Initiative. 2024. ctatlas.coraltriangleinitiative.org. October 24. Accessed December 2024, 2024. https://ctatlas.coraltriangleinitiative.org/Country/Index/IDN?
Marine Conservation Insitute. n.d. marine-conservation.org. Accessed December 25, 2024. https://marine-conservation.org/blueparks/awardees/raja-ampat/.
World Wide Fund. n.d. wwf.panda.org. Accessed December 25, 2024. https://wwf.panda.org/discover/knowledge_hub/where_we_work/coraltriangle/coraltrianglefacts/.
























